Sabtu, 27 Juni 2020

26

It’s been all my life that I’ve been praised of my young age wherever I went and did the things I did at the time, which I’m sure most of you were, being a teenager in a foreign country, getting your first pay check from your first company, or even just going to the hospital for a simple health check when the doctor told you how he was still struggling as a medical student in the Japanese suburbs when he was your age.

Stepping into the second half of our twenties is exciting, yet challenging, as more responsibilities are to be held, more concrete plannings are to be done, and more care is to be given to one’s own body.

Being told young felt evolutionarily good as we were unconsciously made to think that we still had many more years to ‘survive’.

We do, in the end, find the things that make us feel young again naturally with exercise and healthy diet, and unnaturally with botox and the likes.

However that goes, nothing can refresh our soul better than spending time with the people we love, keeping our minds open to other people’s perspective, opinions and beliefs, and just letting it go & agree to disagree when their opinions and beliefs are too strongly built into their minds.

Oh well, happy birthday to me! 😂

Sabtu, 16 Desember 2017

A conservative or a progressive?

An inevitable ultimate question runs through his mind while reading news about the politics and the humans' current situation in the ever-worsening cold wars both within the west and east side of the Pacific, an ocean that ironically gave Eureka when the 'new world' was discovered.

Is he a conservative, or a progressive?

But has he ever really thought the meaning of those 2 words themselves?
What do conservatives conserve? 
And what do progressives progress from or into?

With his limited research, he concluded that conservatives tend to conserve the good old traditional values. 
Values that evolved from religions such as Christian in most American politics and Islam in most Middle-Eastern politics. 

Progressives in the other hand, 'progress' from these traditional values into more modern values that include economical theories, science and technology into their thinking process in making rules & regulations.

He is not surprised to know that there are still people who believe that the earth is flat because of this crucial point. 
Of course however, they are minority. Extreme conservatives only believe in what their source for traditional values tell them. 

Most conservatives however, think that science and technology are worth considering although slightly less important than religions and traditional values, ironically blabbing it loud enough on Twitter, Facebook and other technology-innovated social medias.

Abortion is the same as killing a person since bible does not really tell them anything about overpopulation and limited resources.
And gay marriage, is a sin, because science had not proven them that it's in the natural world for a small percentage of animals (including humans) to be attracted to the same sex.

With science, he then knows that the universe is at least 13 point 5 billion years old by tracking on the furthest star away from the center of our universe traveling with the speed of light right after the Big Bang.
With science, he knows that the earth is at least 4 point 5 billion years old by the radiometric age-dating calculation of earth rocks. 

With science too, he knows that evolution has made human become human after around 4 million years of non-random process of natural selection. 
To think that religions and traditional values that were developed earliest around 40.000 years BC deserve to be fought (conserved) better than evolution which had started 100 times earlier might be considered a strange act, mightn't it? 

It's simple. 
Should the constitution be fought harder than a law that was just made last week that was not really in line with the constitution? How could such a law be created anyway?
Shouldn't science & technology be conserved harder as it is, inevitably, the constitution of the universe?

Well, he thinks so. 


In the end, he never really understands what he is, a conservative or a progressive, as he is conserving the much more important thing to conserve, the constitution of the universe. 

Selasa, 21 November 2017

Tentangmu

Hai cuek, apa kau masih ingat, tentang sore itu, di musim penghujan itu, ketika kita masih punya perasaan, yang sekiranya sama itu?

Hai cuek, tentu kau tidak ingat, tentang jalan itu, yang dihiasi lampu merah dan putih yang berkerlap-kerlip itu, saat jam kerjamu baru terlewat 30 menit itu.

Hai cuek, mungkin biar kuberi kau ingat, tentang kemudiku, dari kantor tempat kau bekerjamu, menuju kosan tempat kau tidurmu.

Hai cuek, tak apalah kau tak ingat, tentang perasaanku padamu, seperti lebah yang mengagumi nektar bunga, seperti seekor semut pekerja pada ratunya.

Hai cuek, biarlah kusaja yang ingat, tentang dirimu, tentang keindahanmu, tentang kecuekanmu.

Tentangmu.

Tokyo, 21 November 2017

Jumat, 31 Maret 2017

Manusia dan Ketidakpercayadirian Alaminya

Feeling insecure, atau yang bisa dalam bahasa Indonesia dikatakan sebagai ‘tidak percaya diri’, selalu melekat dalam diri manusia.

Manusiapun dapat memilih untuk kemudian menunjukkan rasa insecure itu ataupun mengendapnya dalam diri mereka masing-masing.

Merasakan insecure sangat wajar karena merupakan suatu fenomena yang natural bagi setiap makhluk hidup.

Makhluk hidup yang berevolusi wajib mempunyai karakteristik ini agar spesies mereka tidak terancam.

Sama prinsipnya dengan merasakan takut akan bahaya, seekor rusa akan waspada melihat sekelilingnya di savanah yang luas agar tidak diterkam singa secara diam-diam.

Begitu pula dengan segerombolan flamingo yang mengambil air dengan cungurnya di danau harus berantisipasi untuk kemungkinan adanya buaya yang menerkam dari dalam danau.

Pun begitu dengan manusia.

Merasakan kedinginan ketika sedang dalam cuaca yang dingin secara otomatis memberikan siasat kepada tubuh untuk menguras energi melawan dingin tersebut, atau sesederhana membuat mereka berpindah ke tempat yang lebih hangat.

Merasakan takut apabila memacu mobil hingga 200km/jam di jalan tol tanpa pengaman membuat mereka sadar dan teknologi seperti SRS airbag dan rem otomatispun diciptakan.


Layaknya sensor takut, manusia juga sudah pada hakikatnya secara alami merasakan ketidakpercayadirian (feeling insecure) itu.

Seorang model dapat merasa tidak percaya diri pada penampilannya walau banyak orang menganggap dirinya cantik.

Seorang yang obesitas dapat merasa tidak percaya diri pada berat badannya.
Itu semua memang secara alami pantas terjadi.

Manusia yang juga merupakan makhluk hidup yang hanya lebih unggul dalam hal evolusipun pantas merasakan ketidakpercayadirian itu.

Namun, yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya adalah bahwa manusia berbeda-beda dan komplekslah tingkat ketidakpercayadiriannya berdasarkan lingkungan di sekitarnya.

Wanita yang dilahirkan di Indonesia dengan salah satu persepsi kecantikan yang dibangun yaitu yang berkulit putih akan merasa insecure bila kulitnya tidak putih.

Berbeda dengan wanita yang dilahirkan di Swedia misalnya, dengan persepsi kecantikan yaitu yang kulitnya sedikit gelap atau tanned, akan merasa insecure apabila kulitnya terlalu putih atau pucat.

Yang patut ditegaskan disini adalah wajar seorang manusia merasakan ketidakpercayadirian itu, karena itu akan membuat mereka menjadi lebih baik (berdasarkan persepsi di lingkungan mereka).

Wanita Indonesia tadi akan mencari cara agar membuat kulitnya menjadi putih dengan memakai sabun pemutih misalnya, dan wanita Swedia tadipun akan membuat kulitnya menjadi lebih gelap dengan berjemur di pantai misalnya.

Manusia yang obesitaspun akan lebih mudah menurunkan berat badan apabila rasa tidak percaya diri itupun dipupuk.

Namun, apabila terlalu berlebihan juga akan merugikan si manusia tersebut.

Manusia yang berlebihan rasa insecurenyapun akan terus khawatir dan tidak percaya diri; ini dapat membuat mindset mendalam yang tidak akan membuat manusia itu bisa berkembang sebab manusia tersebut selalu merasa inferior.

Sama halnya dengan rusa dan juga flamingo.

Rusa akan tidak bisa beraktivitas apapun dan mati kelaparan karena tidak bisa mencari mangsanya sendiri oleh ketakutan yang menyelimuti.

Flamingopun akan mati kehausan karena terus khawatir buaya akan menerkamnya dari dalam danau ketika hendak minum air.

Sedikit lebih dalam, kitapun dapat menarik kesimpulan bahwa merasa tidak percaya diri itu penting, namun kita juga tidak boleh berlebihan merasa tidak percaya diri, harus with moderation.


Singkatnya, apabila kita melihat seorang manusia yang selalu percaya diri, kita patut mempertanyakan apakah dirinya benar-benar manusia.

Ketika kita mendengar seorang manusia yang selalu percaya diri dengan tafsir agamanya, kita patut mempertanyakan apakah dirinya betul-betul manusia.

Ketika kita melihat seorang manusia yang selalu percaya diri dengan korupsi dan mengambil uang rakyat, kita patut mempertanyakan apakah dirinya sungguh-sungguh manusia.

Ketika kita memperhatikan seorang manusia yang selalu percaya diri menjelek-jelekan orang lain tanpa melihat kebaikan yang dimiliki orang lain, kita patut mempertanyakan apakah dirinya seratus persen manusia.

Atau mungkinkah mereka manusia setengah dewa?


Dewa kotoran manusia.



Ruben

Kanagawa, April 2017

Kamis, 02 Maret 2017

Rumah

Menitpun berganti jam yang dengan cepatnya berkumpul menjadi hari.

Haripun berganti minggu yang dengan cepatnya bercengkerama menjadi bulan.

Kumpulan bulan itu, lepaspun tertawanya pada manusia goblok yang bingung akan sedikitnya sisa waktu dirinya di tanah kelahirannya.

Yang pada awal mula dirinya meninggalkan tanah dimana ia dilahirkan tak mengerti akan kerinduan yang akan ia rasakan di tanah milik orang lain.

Yang merasa senang-senang saja menempuh ilmu di negeri karaoke, bir-bir kelas dunia, dan kemerlap lampu malam yang mencahayai gedung prostitusi-prostitusi yang terkenal kemahirannya sampai ke pelosok-pelosok timur Papua sekalipun.

Untuk pada akhirnya beberapa tahun kemudian menyadari, bahwa Shinjuku, Shibuya dan Roponggi, tak kalah kerennya dibanding Jakarta, yang walau begitu banyaknya bangunan baja yang mengurangi lahan hijau ibukota yang sedang dalam proses penyembuhan, punya karakter tersendiri yang mampu membuat seorang mahasiswa S1, S2 ataupun S3 terdiam sejenak, merasa rindu yang mendalam akan 'rumah', itu.

Suasana ramai dipadu bau alkohol yang dengan setianya diselimuti uap kabut yang disemburkan anak-anak SMA dengan vape mereka, ataupun suasana hedonistik yang mengintimidasi dari atap suatu gedung bilangan pusat kota Jakarta, sampai suasana santai pinggir jalan selatan kota ditemani sate pedas bak Lucifer sendiri yang membuat saus sambalnya, menggambarkan satu bagian dari yang jutaan orang anggap 'rumah', itu.

Seluruh perpaduan itu, takkan ada artinya sebiji-biji beras pun, apabila diriku tak menyebutkan berbagai kecantikan wanita Indonesia yang bersatu di ibukota, yang dengan kota asal mereka yang bermacam-macam itupun rela meninggalkan 'rumah' mereka tuk tinggal di kosan yang kecil, yang mungil, demi mendapatkan rezeki yang halal maupun tidak halal dari bisnis toko online, jadi supir taksi online ataupun bekerja di panti pijit remang-remang sudut-sudut kota Jakarta yang pun juga mereka sudah sebut 'rumah', itu.

Kemudian, aku bertanya kepada diriku, seberapa bodohnyakah seorang manusia, yang rela kerja di negeri orang lain, menyenangkan bos-bos bangsa lain, yang dengan lugunya rela meninggalkan kenyamanan 'rumah', ketentraman 'rumah' itu?

Rabu, 08 Februari 2017

Surat untuk Oa

Oa,

Aku tidak tahu seberapa yang kamu tahu atau yang kamu tidak tahu dari lingkungan yang ada di sekitarku.
Akupun demikian.
Dari pembicaraan kita melalui telepon beberapa hari silam, agak bias untuk begitu saja memaksakan imajinasiku terhadap apa yang ada di sekitarmu.
Anggap aku manusia rendah imajinasi.
Anggap aku manusia minim antisipasi.

Yang aku tangkap adalah tetap melekatnya keceriaan dalam perkataanmu, kebahagiaan yang bertambah dalam intonasimu, namun kerinduan akan sesuatu yang aku kurang bisa pada saat ini mengerti.

Di dunia luar ini, ada banyak yang, aku anggap saja, menarik untuk dituliskan dalam buku memoir pengingat kejadian-kejadian secara pribadi ataupun publik.
Dari seorang tak bersalah yang kemudian harus dipenjarakan karena dituduh membunuh temannya dengan memasukkan sianida ke dalam segelas kopi Vietnam,
ke demo besar-besaran yang dilakukan pada tanggal 4 November silam karena seorang Kristen yang difitnah menistakan agama Islam oleh perkataannya,
ke pemilihan umum presiden Amerika Serikat yang sampai detik aku menulis surat inipun seorang yang dianggap rasis, kasar dan arogan dapat memimpin presentase pemenang pemilihan.

Tampaknya aku mulai mengerti mengapa dirimu ingin meninggalkan dunia nyata dan pergi untuk mencari jati diri yang asli di kesendirianmu dalam lingkungan yang baru.
Untuk kemudian mempelajari Bahasa Inggris di suatu tempat di pulau Jawa bagian Timur adalah suatu langkah yang jarang orang pikirkan untuk ambil.

Tentu seperti yang kamu katakan dalam pembicaraan kita di telepon pada saat itu, kamu belajar lebih banyak mengenai kehidupan sederhana yang kamu dapat alami secara langsung di sana.
tentang bagaimana seseorang dapat tinggal dalam suatu asrama yang ketat, yang hampir tidak ada kontak dengan dunia luar, yang mungkin merasakan kebahagiaan yang jauh lebih berarti ketimbang semua orang yang berpura-pura tertawa dalam kebahagiaan palsu di luar sini.

Sungguh aku mengagumi pilihan yang dirimu ambil.

Anggap aku pengecut, anggap aku penakut, yang belum bisa meninggalkan zona nyamanku di Tokyo, di Jakarta, di Bandung, di kota-kota besar lainnya dengan lampu-lampu kota, mesin-mesin mobil dan bangunan-bangunan tinggi yang senantiasa menyelimuti diriku dari jiwaku yang sesungguhnya.

Aku tidak seberani kau.
Aku tidak sebahagia kau.
Aku tidak sebijaksana kau.

Namun mungkin, aku ingin menjadi seperti kau.



Ruben Abdulrachman
Cikini, 9 November 2014

Senin, 14 November 2016

Secarik Surat untuk Rangga

Rangga, sesungguhnya aku bertanya tentang Cinta, apa dia yang selalunya membahagiakan sedihmu, menyehatkan sakitmu?

Untuk yang selama ini kau tinggalkan, dalam angan untuk melegakan hausmu, mengeyangkan laparmu?

Tak pikirkah engkau betapa besar keegoisan yang kau harus miliki, untuk dapat merebutnya kembali, yang tak kunjung meramaikan sepimu, memudakan tuamu?

Yang sejujurnya saja, tak pernah sedetik jua mencintai dirimu?

Rabu, 02 November 2016

Keinginan Jasmani dan Cinta

Mungkin terdengar, terasa, dan tertuliskan dalam sejarah manusia bahwa keduanya selalu berdampingan, yang dianggap bahwa yang satu tidak akan pernah bisa berdiri sendiri tanpa yang lain. Cinta akan hampa tanpa adanya keinginan jasmani seorang pria dan wanitanya untuk memiliki satu sama lain. Sebaliknya, keinginan jasmani tanpa cintapun menafikan manusia yang dikatakan memiliki nalar dan yang bisa mengontrol emosi diri dari hasrat-hasrat naluriah makhluk hidup belaka.

Namun, tidak selamanya cinta yang akan selalu mendikte manusianya untuk memuaskan keinginan jasmani manusia. Manusialah yang mengontrol cinta, dan bukan sebaliknya. Manusia terlalu maju untuk tidak malu dengan kemampuannya untuk mengontrol cinta.

“Budak Cinta” adalah idiom yang sering digunakan untuk memberikan label pada manusia-manusia yang tidak memliki kemampuan untuk mengontrol cintanya. Manusia-manusia yang didikte secara goblok oleh cinta yang sebenarnya ia miliki tersebut, membuat dirinya tak berdaya, membuat seluruh darah yang ada pada tubuhnya hanya terfokus pada sekumpulan sel dalam otak yang berfungsi untuk memuaskan seluruh keinginan pasangannya.

Bodoh, tolol, idiot.

Manusia yang sudah berevolusi jutaan tahun bisa-bisanya tidak bisa mengikuti perkembangan kemampuan untuk mengontrol rasa cinta. Apa ini yang dinamakan love is blind? Tentu saja bukan. Apa bila love is blind, love tidak akan pernah bisa mengontrol manusia untuk menjadikannya sebegitu bodohnya. Manusia lemahlah yang kemudian dijadikan buta akibat kepintaran dan kelicikan cinta itu sendiri.

Namun, berbahagialah kita yang masih bisa mencinta, karena sesungguhnya cintapun yang menjadikan manusia pada zaman ini yang terpilih, dengan cara yang paling demokratis, dan dengan menganut asas-asas hukum yang sesuai. Bagaimana tidak, yang memilih manusianya sendiri, dan disetujui oleh kedua belah pihak dengan memberikan ‘suara’ mereka, dan adil karena kedua insan yang dipersatukan oleh cintapun mempunyai hak-hak dan kewajiban mereka masing-masing sesuai dengan persetujuan yang mereka sendiri buat di awal hubungan. Pun bila adanya pertengkaran, dapat diselesaikan dengan cara yang musyawarah, atau jikalau sudah melebihi batasnya, cinta itupun putus dan keduanya pergi ke jalannya masing-masing jika tidak ada pengadilan banding untuk menyambung hubungan mereka kembali.

Kadang, kita harus belajar dari cinta.


Atau, cinta yang harus belajar dari kita?

Sabtu, 10 September 2016

Manusia Naif

Sesungguhnya pada apakah manusia akan selalu berjuang apabila variabel uang tetaplah menjadi alat instrumental dan variabel akhir hayat ditiadakanlah adanya?

Yang hidup dalam keabadian dunia, yang hidup dalam semakin membesarnya kosmos setiap detik, untuk tidak pernah ada dalam satu tempat disebabkan sekelilingnya yang bergerak?

Cinta akan suatu aktivitas, cinta akan wanita, cinta akan alam, merupakan contoh-contoh hal yang sering dianggap remeh untuk dimiliki oleh para remaja, walau sesungguhnya itulah yang membedakan kita akan pendahulu kita.

Cinta manusia dibanding makhluk lain di dunia akan selalu lebih. Tidak ada makhluk di dunia ini yang bisa cinta dan menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk cinta. Anjing tidak akan pernah rela untuk kehilangan nyawanya demi cintanya akan majikannya. Manusia mati dalam perang demi cinta untuk negaranya.

Menelaah Hachiko yang rela mati menunggu majikannya di salah satu stasiun di Jepang, apa sesungguhnyakah itu cinta, apabila tidak ada di benak dia pilihan lain untuk melanjutkan kehidupannya? Hanya hasrat untuk dikasihsayangi dan diberi makanan sajalah yang membuat ia menunggu di stasiun itu.

Dikasihsayangi secara pasif tentu beda halnya dengan mencintai secara aktif. Hachiko hanya ingin kebutuhan jasmaninya terpenuhi dengan kehadiran sang majikan.

Bukan berarti iapun kemudian bisa diartikan sebagai yang rela tidak makan 3 hari 3 malam demi sebotol susu yang tiap hari harus dibeli majikannya untuk kebutuhan pertumbuhan bayinya.

Bukan berarti ia bisa diartikan rela memberikan tulang mainan kesayangan satu-satunya, berlari ke tempat yang sangat jauh dan mencium kening istrinya hanya untuk kembali lagi dan mengulang kegiatan memberikan tulang mainan kesayangannya tersebut.

Itu semuapun sudah dilakukan manusia.
Dari marathon yang berasal dari cerita seorang prajurit yang rela berlari lebih dari 42 km memberikan kabar bahwa pasukannya telah menang untuk kemudian merelakan dirinya.

Dari kisah seorang Polandia yang rela dipenjara demi menyelamatkan jutaan orang Yahudi musuh para Nazi ketika perang dunia kedua, atas nama cinta kepada sesama manusia.

Dari kisah 3 manusia yang rela berenang melewati air radioaktif di Chernobyl dengan tujuan memberhentikan kehancuran pembangkit tenaga nuklir, atas nama cintanya juga akan sesama manusia.

Dan kau, hanya bisalah menghujat temanmu yang tidak dapat move on dari sang mantan, menaifkan kenyataan bahwa cinta.... cinta adalah sesuatu hal yang sangat unik, yang hanya dimiliki oleh manusia, yang begitu kuat, yang begitu indah untuk dimiliki, dan yang begitu tepat rasanya untuk dibagi...

walau kepada sang mantan.

Rabu, 17 Agustus 2016

Kemunafikan Manusiawi

Kenapa harus bangga dengan sesuatu hal yang hanya kau sendiri yang mengerti dan memamerkannya secara arogan?

Bukankah pengajar yang intelek, yang benar-benar mengerti apa yang dia beri, adalah pengajar yang bisa dengan mudah mengajarkan?

Untuk rasa malu kepada malaikat yang melihat, untuk rasa sedih akan tertutupnya rasa ingin tahu, aku tulis sajak ini.

Sajak yang tak ada berat harafiahnya, yang kutulis sendiri tanpa orang di sekelilingku mengerti, penuh kemunafikan manusiawi.

Apa aku orang itu? Apa sesungguhnya dengan melihat orang lain begitu, seyogyanya itu adalah cerminan kelakuanku?

Ikebukuro
17 Agustus 2016

Senin, 27 Juni 2016

Aku merindukan malam itu

Aku merindukan malam itu dimana purnama memberi kilauan cahaya pada gelombang-gelombang pantai sembari meniup-niup pasir yang beterbangan

Aku merindukan malam itu dimana sensasi sentuh, persepsi jarak dan keseriusan duniawi hilang diambil alih oleh efek tumbuhan liar itu

Aku merindukan malam itu walau setidaknya aku tau ada tempat nan jauh di balik samudra biru itu yang selalu tak berubah dalam pelukan ombak

Aku merindukanmu hai pulau dewata, pulau yang di sekelilingnya terlindung oleh benteng2 raja, rumah sang dewa agar teruslah lestari adanya

Aku merindukanmu hai pulau dewata, pulau yang menguasai kesunyian ditemani oleh hijaunya pedesaan dan oleh indahnya pegunungan

Aku merindukanmu hai pulau dewata, pulau yang namun juga menguasai keramaian ditemani oleh kentalnya budayamu dipadu oleh tequila mereka

Rabu, 01 Juni 2016

Koran pagi pada sore hari

Di dunia ini, persetanlah dengan harapan bahwa manusia akanlah mencapai kepuasan.

Hidupnya dilengkapi dengan orangtua yang menyayangi dirinya, namun selalu dianggap berisik.

Hidupnya dijalani dengan badan yang sempurna, namun selalu saja mencari alasan untuk berhenti berjalan.

Sekolah yang tinggi, selalu ingin menggapai yang lebih tinggi.

Keluarga yang sempurna, selalu mengandai-andaikan pasangan yang lebih menarik.

Ekonomi yang berkecukupan, selalu ingin berfoya-foya.

Dan pada akhirnya, sampailah ia pada suatu kesadaran bahwa dirinya sebenarnya ingin hidup tanpa batas, melainkan hidup selamanya.

Tidak sadarkah ia bahwa ia ingin lebih hanya untuk tidak menikmati yang ia selalu punya?

Yang ia selalu pegang, rasa & miliki hanya dilewatinya tanpa kenikmatan melainkan rasa kekurangan tanpa berkehabisan.

Oh manusia, mungkinkah evolusimu menghilangkan kebahagiaan yang telah lama dimiliki pendahulumu?

Dan lagi, apa manusia akan sesungguhnya hidup?

Hidup dalam artian sederhana tentu benar adanya.

Apabila hidup hanyalah dapat didefinisikan sebagai yang bernafas, yang tumbuh, yang bergerak, yang buang air, yang mempunyai reflek sentuh, yang dianggap ilmu pengetahuan sebagai hidup, tentu manusia benar hidup adanya.

Tetapi, apa manusia akan sesungguhnya hidup?

Akan sesungguhnyakah ia hidup, apabila ia lahir hanya untuk selalu memikirkan sesuatu yang ada setelah apa yang ada dalam masa kini, yang sekarang, yang sedang dialaminya?

Yang sekarang ia makan, ia harus bayar.

Yang sekarang ia minum, ia harus bayar.

Yang sekarang ia tanam, ia harus panen.

Apa justru selain cara ini, tidak bisakah ia hidup?

Hanya dengan cara inilah manusia bisa dikatakan hidup?

Di dunia kapitalisme anjing-anjing yang duduk dengan nyamannya di atas bangku yang terbuat dari tengkorak-tengkorak dan darah-darah yang jadi satu diblender, dibekukan dan diistirahatkan untuk menjadi bangku para tuna wisma, para miskin, para proletariat-proletariat 99 persen populasi yang ada di dunia?

Di dunia kapitalisme bajingan-bajingan yang bilang bahwa memang cara inilah yang paling tepat, yang bilang bahwa tidak ada cara yang lebih baik selain memeras susu ibu-ibu hamil yang diharuskan bekerja karena penghasilan suaminya yang pemulung tidak akan bisa mencukupi kebutuhan anaknya yang baru menginjakkan kakinya di kelas 3SD setelah menjajakkan koran pagi pada sore hari di perempatan jalan kota jakarta yang katanya ibukota itu?


Ruben
Tokyo, Juni 2016

Minggu, 08 Mei 2016

Sajak Swastika

Om swastiastu

Kupijakkan kaki di luar rumahku
Kuakan pergi tuk menemui dirimu
Pujaan hatiku, dambaan hasratku

Om swastiastu

Kuhanya bisa berdoa setiap hariku
Tuk dapat mengukir rasa dalam setiap tatapmu
Tuk bangun istana kecil dalam megahnya hatimu

Om swastiastu

Mungkin memang kau tak perluku setiap harimu
Tapi harapku, agar kau inginku dalam setiap diammu
Dalam setiap kata yang tak terucapmu
Dalam setiap senyum yang tak berimu

Om swastiastu

Apa diriku ada dalam setiap mimpimu?
Apa diriku ada dalam setiap langkahmu?
Untuk halku, kau telah melekat dalam lapisan-lapisan terdalam hatiku

Om swastiastu
Kata sapaan dalam agama Hindu
Om swastiastu
Betapa indahnya sapaan itu
Om swastiastu
Kerap dirimu dalam keadaan bahagia selalu

Om swastiastu
Kuakhiri coretan ini dengan sebekal anganku
Om swastiastu
Angan akan seutuhnya memilikimu
Om swastiastu
Tapi tak perlulah itu, asal kau beriku bahagiamu

Om swastiastu
Om santi santi santi om

Shinjuku
Mei 2016

Kamis, 05 Mei 2016

Sajak Kopi

Aku terbangun pada pagi ini dan langsung kubuat kopi pahit.
Aku harus bersiap pergi walau badan terasa sakit.

Tak ada yang boleh menghambat kepergianku karena ini untuk masa depanku.
Untuk apa aku rela jauh-jauh merantau kalau bukan untuk Indonesia negriku?

Kopi.. Kopi bisa saja hanya sebuah stimulan bagi semua asa dan semangat.
Tapi hanya dengan kopipun, semuanya takkan berarti tanpa adanya niat dan taat.

Satu sendok, dua sendok kopi yang kuserok, kupadu dengan gula secukupnya.
Sambil kutunggu air memanas, aku melihat berita pagi untuk tahu dunia dan sekelilingnya.

Teror, pemerkosaan, dan Trump terus mengisi laman Facebook-ku.
Hanya kesal dan miris yang bisa kutanam ini takkanlah berguna tanpa adanya gerakku.

Mungkinkah kopiku ini bisa kemudian berguna untuk memberikan semua orang tawa?
Ah mungkin aku hanyalah masih mengantuk, izinkan aku terlebih dahulu mengumpulkan jiwa.

Rabu, 27 April 2016

Iwo Jima, Prajurit Pengkhianat & Tuhan (Catatan Pinggir #2)

Saya baru saja menyelesaikan menonton film ‘Letters From Iwo Jima’, sebuah film yang berlatar perang dunia kedua di suatu pulau bernama Iwo Jima. Pulau ini merupakan pulau kunci untuk memasuki Jepang pada saat itu. Pasukan perang Amerika Serikat mengincar pulau ini untuk dijadikan markas angkatan perang para prajurit-prajuritnya.

Film yang disutradarai oleh Clint Eastwood ini dilengkapi dengan kisah-kisah menyedihkan namun inspiratif karakter-karakter di dalamnya. Secara apik, roman yang terkandung dalam setiap karakter dari film ini diungkap melalui flashback-flashback yang mempesona. Belum lagi menyebutkan pengambilan dan kualitas gambar yang memukau.

Saya terkesan pada satu aspek yang diangkat dalam film ini. Itu adalah pertengkaran batin seorang prajurit. Di balik pemikiran-pemikiran pribadi yang dimiliki seorang prajurit, dirinya telah bersumpah untuk selalu mengikuti atasannya. Adapun kisah dalam film ini mengenai dua orang prajurit yang melarikan diri dari suatu bukit. Kedua prajurit ini melarikan diri karena menyadari bahwa tidak ada harapan lagi bagi mereka apabila mereka menetap di bukit tersebut. Jumlah angkatan perang Amerika Serikat tidak memungkinkan bagi mereka untuk bisa selamat bila menetap disana. Sebelumnya, atasan mereka telah menyuruh mereka untuk berjuang di bukit itu sampai mati. Ketika kedua orang prajurit itu berhasil selamat dengan melarikan diri, atasannya itupun marah dan menganggap mereka pengecut serta pengkhianat negara. Atasannya itupun berniat untuk menembak mati kedua prajurit tersebut walau pada akhirnya dihentikan oleh sang komandan perang.

Dengan cerita ini, kita dapat mengambil poin yang penting walau ada sisi-sisi yang mempunyai argumennya masing-masing. Bila kita lihat dari kacamata kedua orang prajurit tersebut, tentu adalah hal yang rasional bila mereka melarikan diri. Setelah mereka melarikan diri, merekapun bisa membela negara lagi setelah selamat. Itu adalah persis kata-kata dari seorang prajurit kepada yang lainnya. Prajurit yang lainnya itu pada awalnya menegur untuk tidak mengabaikan perintah atasan dan menetap di bukit tersebut. Namun, prajurit yang ingin melarikan diri itupun mengajak prajurit yang lain itu untuk melarikan diri karena dengan begitu mereka akan bisa hidup dan akan terus bisa berjuang dengan pasukan utama. Mereka melarikan diri dan benar saja mereka selamat. Ini artinya adalah 2 orang prajurit tambahan untuk pasukan utama.

Namun, cerita ini belum selesai bila belum dilengkapi dengan perspektif sang atasan tersebut. Walau tidak secara tersurat diceritakan dalam sepenggal cerita ini mengenai strategi keseluruhan seorang komandan perang atau atasannya tersebut, namun izinkan saya menelaah apa yang mungkin menjadi pemikiran sang atasan itu. Dari sisi prajurit, memang hasilnya adalah 2 orang prajurit tambahan. Di sisi lain, bila 2 orang prajurit itu berjuang di bukit yang telah disebutkan itu sampai mati, kita tidak akan pernah tahu berapa banyak pasukan lawan yang bisa berkurang apabila 2 orang prajurit itu berjuang sampai mati. Bisa saja 5, 20, atau 100. Namun, tentu saja bisa 0 pula. Sang atasan menurut pemikiran saya, sudah seharusnya memikirkan hal ini. Mungkin sang atasan memutuskan untuk memberikan kesempatan pada kedua prajurit ini untuk berjuang sampai mati agar 5, 20 atau 100 prajurit lawan bisa terbunuh, tanpa mengurangi pertimbangan akan 0 prajurit lawan yang akan tumbang. Atasannya akan merasa terpenuhi apabila kedua orang prajurit ini mati tetapi telah memberikan jerih payah mereka membunuh pasukan lawan tak peduli apa hasilnya. Kedua orang prajurit inipun tentu akan gugur dalam hormat apabila itu yang terjadi. Ini adalah strategi perangnya mungkin. Namun, yang terjadi adalah mereka melarikan diri dari bukit tersebut dan tidak berjuang sampai mati disana.

Menurut saya, kisah ini sangat bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Sering kita merasa suatu hal adalah yang paling baik, dan yang paling rasional tanpa mencoba memahami apa yang dipikirkan oleh orang lain, teman, ataupun orang yang mempunyai pengalaman yang lebih dari kita sekalipun. Kita harus menyadari bahwa mungkin saja ada sesuatu yang teman kita, atau orang yang mempunyai pengalaman lebih dari kita itu, ketahui. Contoh yang paling mudahnya adalah agama. Seorang pemeluk agama yang telah mengambil tanggung jawab untuk selalu menghormati Tuhannya akan selalu menaati perintah-Nya. Mungkin dalam hidupnya, ada pula beberapa hal yang terasa rasional untuk ‘melarikan diri dari bukit’ seperti yang dialami oleh kedua orang prajurit tersebut. Namun, Tuhan-pun mungkin sebenarnya memiliki tujuan yang lebih besar lagi untuk hidup seseorang tersebut apabila ia terus mengikuti perintah-Nya.

Baiklah, sebelum tulisan ini menjadi ceramah yang berkepanjangan, ada baiknya saya akhiri.

Tokyo, April 2016
Ruben

Jumat, 15 Januari 2016

Renungan Penghujung Sore

Ada yang bilang bahwa Jepang adalah negara yang sangat nyaman untuk ditinggali. Negara yang dalam jari-jemarinya terlintas kereta api dan bus-bus umum.
Dalam rentangan tangannya, terlintas jalan raya sampai ke pelosok desa.
Menyerupai pembulu darah manusia, menghubungi semua organ di tubuh dengan aneka ragam transportasi.
Seakan dirinya tahu bahwa manusia senang bepergian dan beraktivitas.

Ada juga yang bilang bahwa Jepang adalah negara yang berkebudayaan tinggi, toleran terhadap sesama.
Walau penduduknya homogen, seakan tidak miskinlah pengalamannya memberi warna pada arti kata toleransi.
Toleransi pada yang lebih tua. Toleransi pada wanita. Toleransi pada agama. Pun toleransi pada warga asing.
Seakan dirinya mengerti bahwa manusia senang diperlakukan baik oleh sesama.

Ada juga yang bilang bahwa Jepang teknologinya nomor satu. Dari robot yang bisa melantunkan lagu-lagu klasik dengan piano, tenaga nuklir, dan teknik daur ulang dalam dunia persampahan.
Seakan dirinya sadar bahwa manusia tak akan bisa bertahan di bumi tanpa teknologi yang mencukupi.

Namun, saya pikir tanah Jepangpun tak tahu.
Namun, saya pikir udara Jepangpun tak mengerti.
Namun, saya pikir air Jepangpun tak sadar.
Adalah manusianya yang melakukan ini semua!
Merancang dan membangun alat transportasi dan infrastruktur.
Menanam dan mengajar budaya toleransi lintas generasi.
Menganalisa dan mengembangkan teknologi.

Aku beruntung!
Aku beruntung karena sebenarnya Jepang itu maju karena manusianya.
Tidak ada mineral khusus di tanah Jepang yang menyebabkan Jepang itu maju adanya.
Tidak ada substansi khusus di udara Jepang yang menyebabkan Jepang itu intelek adanya.
Tidak ada elemen khusus di udara Jepang yang menyebabkan Jepang itu terdepan adanya.

Manusianya sama kok spesiesnya dengan manusia Indonesia.
Yang kita butuhkan adalah kesadaran dan tak malu untuk meniru Jepang.
Yang kita butuhkan adalah semangat untuk mengambil kebaikan Jepang.
Yang kita butuhkan adalah asa dan niat untuk menebarkan bibit-bibit Jepang.

Kebanyakan dari kita, beruntung bisa menuntut ilmu di Jepang.
Kebanyakan dari kita pula, mengagumi Jepang dengan sangat.

Namun, yang kita sering lupa adalah, syarat utama dari seseorang mengagumi sesuatu itu adalah bahwa seseorang itu harus skeptislah pula.
Sebagai manusia, sering kita mengagumi sesuatu dan membanding-bandingkannya dengan sesuatu yang lebih buruk, atau tidak sebaik dengan sesuatu yang pertama itu.
Namun, sebagai mahasiswa, saya mengajak anda untuk mengambil langkah tambahan.
Setelah mengagumi dan membandingkan, ada baiknya apabila kita cari letak kesalahan dari yang tidak baik itu dan mulai mencari solusi tentang bagaimana memperbaiki yang tidak baik itu agar menjadi lebih baik.

Dengan begitu, anda tidak hanya menjadi seorang pengagum yang sempurna, tapi anda juga akan menjadi agen perubahan yang sempurna.
Salam.

Ruben


Tokyo, Januari 2016

Rabu, 06 Januari 2016

The Prophet (Chapter: Marriage)

Love one another, but make not a bond of love:
Let it rather be a moving sea between the shores of your souls.
Fill each other’s cup but drink not from one cup.
Give one another of your bread but eat not from the same loaf.
Sing and dance together and be joyous, but let each one of you be alone,
Even as the strings of a lute are alone though they quiver with the same music. Give your hearts, but not into each other’s keeping.
For only the hand of Life can contain your hearts.
And stand together yet not too near together:
For the pillars of the temple stand apart,
And the oak tree and the cypress grow not in each other’s shadow.

-Khalil Gibran
(Born January 6, 1883)

Kamis, 31 Desember 2015

Tahun baru

Tahun baru.

Katanya.

Lembaran baru.

Katanya.

Halaman pertama dari buku setebal 365/366 halaman itu.

Katanya.

Judulnya bisa ditulis di awal, tengah, akhir atau tidak ada judulnya sama sekali.

Katanya.

Semua orang mendapatkannya.

Katanya.

Buku kenangan untuk satu tahun.

Katanya.

Semua punya alat tulisnya sendiri.

Katanya.

Pensil kenangan untuk satu tahun.

Katanya.

Dengan buku yang baru ini, seakan terhapus semua yang tertulis di tahun sebelumnya.

Katanya.

Seakan memulai dari yang baru lagi.

Katanya.

Seakan memulai dari yang segar lagi.

Katanya.


Tapi 'seakan' saja tidak akan cukuplah tentu.

Seakan-akan kau suka aku.

Seakan-akan aku punya uang yang ada di seluruh dunia ini.

Seakan-akan aku bisa memilih darj semua wanita yang ada di dunia ini.

Namun kau tahu, dan aku juga tahu, tidak bisalah semua dinilai dari semata-mata seakan-seakan.

Tidak bisalah interview kerja dinilai dari bagaimana seorang seakan-akan berkemampuan.

Tidak bisa pulalah seorang wanita menerima cinta sang pujaannya dengan bagaimana pujaannya itu seakan-akan bisa berkomitmen.

Walau seakan-akan lembaran baru; yang memang benar adanya; untuk berkata ini adalah buku baru tentu salah besar.

Walau seakan-akan lembaran baru; yang memang benar adanya; untuk berkata ini adalah bab yang baru saja belumlah otomatis.

Tahun baru adalah semata-mata titik dimana tahun berganti.

Satu waktu dimana ada batasan teknis umat manusia untuk menandai titik dalam garis kronologi waktu.

Kadang, untuk mengingat tanggal berapa saja dalam satu bulan kita suka lupa.

Kadang, untuk mengingat hari apa dalam satu minggu saja kita suka lupa.

Tahun tentulah wajib ditandai, kalau tidak, akan kesusahanlah kita menghitung hari dalam minggu, minggu dalam bulan, dan yang paling scientific adalah menentukan antara 365 hari tahun biasa atau 366 harinya tahun kabisat.

Susahlah apabila kita tidak mempunyai suatu angka yang menandai suatu tahun (2016 contohnya yang merupakan tahun kabisat).

Menandai suatu tahun yang isinya 365/366 hari inipun tentu umat manusia sadar harus menandai (karena alasan perlunya menyesuaikan revolusi bumi akan matahari 1 hari dalam 4 tahun).

Maka dari itu, belum tentulah tahun yang baru ini juga menandai masuknya bab baru dalam garis kehidupan manusia.

Bisa saja hanya ganti paragraf.

Bisa.

Bisa saja hanya ganti kalimat.

Bisa.

Bisa saja hanya ganti kata.

Bisa.

Apalagi yang hanya menjalani malam tahun barunya dengan tidur di rumah.

Sudah terlalu banyak resolusi-resolusi sosial media yang menyebutkan 'a new year, a new me'.

Itu semua omong kosong.

Diri seseorang bisa berubah dari setiap bulan.

Diri seseorang bisa berubah dari setiap minggu.

Diri seseorang bisa berubah bahkan dari setiap hari.

Tak perlu menunggu satu tahun untuk berubah.

Mari kita memperdalam makna pembaharuan dan evaluasi diri kita.

Kita tidak hanya bisa berubah hanya pda akhir tahun, bukan?

Resolusi tahunan hanya akan memberikan kita batasan kemampuan dalam satu tahun.

Berbeda halnya apabila kita melakukan secara rutin seperti resolusi bulan, minggu atau hari yang ukurannya jauh lebih kecil.

Jauh lebih kecil, tapi kita melakukannya 365 kali.

Yang menurut saya akan jauh lebih berarti karena bisa secara cepat dievaluasi.

Dan tentu perkembangannya terarah.


Untuk mengakhiri tulisan ini, sebenarnya akan seperti bertolak belakang apabila diakhiri dengan resolusi saya di tahun yang baru ini, bukan?

Tapi mungkin anda bisa mengerti.

Resolusi saya di tahun ke depan adalah untuk lebih bisa memperdalam makna dari resolusi itu sendiri dan akan melakukan resolusi bulanan, mingguan atau bahkan harian.

Happy new year 2016.


Tokyo, Jepang.

Senin, 05 Oktober 2015

Asa


Anehlah adanya.

Taklah berbentuk.

Tak juga berbau.

Wujudnya rapuh.

Mudah tertiup angin.

Menyentuh tetes-tetes air.

Yang singgah di dedaunan itu.


Ia menempel kepadanya.

Ia pergi meninggalkannya.

Tanpa ketuk pintu.

Tanpa izin pamit.

Seperti layaknya manusia.

Yang giat memupuk asa.

Untuk akhirnya sia-sia.


Cinta akan sesama.

Cinta akan rasa.

Cinta akan harta.

Semua ilusi belaka.


Tanpa cinta akan alam.

Akankah esok melihat malam?

Tanpa cinta akan dunia.

Akankah esok ada cahaya?

Tanpa cinta akan lingkungan

Akankah esok ada kehidupan?

Senin, 13 Juli 2015

Ketidakpernahpuasan Manusia

Pulang dari kampus, mendapatkan tempat duduk di kereta pulang Rapid, sungguh hal yang seharusnya sangat menyenangkan diriku.

Tapi lain halnya dengan hari ini. Aku merasa hal itu adalah hal yang biasa. Aku merasa hanya itulah yang memang sudah sepantasnya aku dapatkan. Kereta dibuat dengan kursi di dalamnya hanya supaya aku bisa duduk di dalamnya. Persetan dengan orang lain yang tidak mendapat kursi. Biarkanlah aku nikmati kursi yang sungguh nyaman ini.

Dengan pemikiran alamiah seperti inilah, aku disadarkan bahwa sebenarnya bukan sistem sosial yang seperti apa yang selayaknya terus dikembangkan oleh manusia. Bukan sistem politik seperti apa yang selayaknya dianut suatu negara. Melainkan, hal yang seharusnya menjadi titik berat pemikiran manusia adalah kesadaran bahwa manusia itu tidak pernah puas. Bahwa manusia tidak pernah puas dengan apa yang ia punya, apa sistem sosial suatu negara yang ia tinggali itu jalankan. Manusia akan selalu melihat sisi apa yang sistem sosial tersebut tidak bisa berikan kepadanya, bukan apa yang sistem sosial di negara itu bisa jalankan. Theodore C. Roosevelt, mantan presiden Amerika Serikat pernah berkata, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country”. Jangan tanya apa yang negaramu bisa lakukan terhadap dirimu, tanya apa yang kamu bisa lakukan untuk negaramu.

Dimanapun itu, dengan sistem sosial apapun itu, di setiap sejarah perkembangan reformasi sosial manusia, pasti ada segelintir komunitas manusia yang tidak menyetujui apa sistem sosial atau sistem politik yang dijalankan oleh suatu negara itu. Ini adalah manusia-manusia yang menanyakan apa yang negaranya bisa lakukan untuk diri-diri mereka. Yang sebaiknya dilakukan adalah melihat ke cermin, dan mencari apa kelebihan-kelebihan diri kita yang kita bisa berikan kepada negara. Bila kita pandai berhitung dan menganalisa, mungkin bisa menjadi insinyur. Bila kita pandai dalam menghafal dan menentukan keputusan-keputusan yang tepat, layaknya kita menuntut ilmu agar bisa menjadi hakim di negara kita. Kebanyakan, yang lebih dominan terdapat  di atas muka bumi ini tentunya, adalah manusia-manusia yang mencari-cari hal yang negaranya dengan sistem sosial yang tidak sempurna itu tidak bisa berikan kepada diri-diri mereka.

Sistem sosial di negara yang menganut asas komunisme misalnya, dengan manusianya bekerja untuk mencapai kebaikan bersama, ada saja manusia yang tidak pernah puas karena merasa dirinya bekerja lebih banyak dibanding rekan kerjanya. Ketidakadilan jatah kerja inilah yang menjadikan segelintir umat manusia bisa membuat dirinya punya alasan untuk merasa sistem sosial komunisme adalah sistem sosial yang buruk, yang harus diperbaiki, yang menuntut adanya revolusi suatu negara. Ketidakpuasan manusia inilah yang justru sebenarnya menjatuhkan sistem sosial tersebut, bukan sistem sosialnya itu sendiri. Kesalahkaprahan yang normal. Kesalahkaprahan inilah yang ada di seluruh negara di muka bumi ini. Ada di negara-negara komunisme, dan juga ada di negara-negara kapitalisme.

Mirip halnya di negara-negara yang menjalankan sistem sosial kapitalisme, bisa dengan mudah dilihat dari para buruh-buruh. Buruh-buruh, pekerja kantoran atau proletariat lainnya akan selalu merasa bahwa ada ketidakadilan karena apa yang dirinya telah ciptakan di pabrik langsung diambil dari dirinya dan hak miliknya dirampas oleh para penguasa yang menguasai pabrik tersebut. Para bangsawan dan manusia-manusia borjuis bisa dengan mudahnya menghilangkan hak-hak milik dari buruh-buruh tersebut, walau sebenarnya dalam sistem sosial kapitalisme itu, para penguasa itu telah dengan susah payah bekerja dari bawah untuk mencapai pada tingkatan itu. Di sistem sosial yang paling dominan di atas muka bumi ini saja, ada timbul alasan untuk membuat manusianya ingin melakukan revolusi. Merekapun tidak tahu sistem sosial apa yang pantas berjalan untuk negara tersebut tapi ingin melakukan revolusi.

Timbullah kemudian pertanyaan-pertanyaan dalam benak saya: Apakah jalan revolusi selalu lebih baik? Jalan revolusikah yang paling sempurna? Apa karena tidak puas saja mau revolusi?

Kecenderungan ini sebenarnya bisa terlihat juga dengan manusia-manusia yang selalu saja memprotes dan mengkritik apa saja kebijakan pemerintah dan presidennya siapapun itu. Baru beberapa bulan atau tahun saja memimpin suatu negara langsung dikritik habis-habisan dan ingin menjatuhkan seorang presiden. Tidak sadarlah mereka akan pola diri mereka sendiri yang juga mengkritik presiden sebelumnya. Tidak sadarlah mereka bahwa perubahan itu butuh waktu. Apa penurunan suatu presiden akan membuat lebih baik? Presidennya ganti seribu-kalipun, saya tidak yakin tidak akan ada segelintir manusia yang ingin menjatuhkan presiden tersebut. Ini karena saya yakin bahwa tidak ada pemerintahan yang bisa berjalan lancar tanpa pemerintahan oposisi. Tapi tentu pada level-level yang normal, moderat dan terkontrol. Kritik-kritik perlu, tapi selayaknya diimbangi dengan toleransi-toleransi yang seimbang.

Balik ke argumen saya yang pertama. Bukan kepada sistem sosial atau politik suatu negaralah yang membuat perlu adanya perkembangan, melainkan toleransi terhadap ketidakpernahpuasan manusia itulah yang seharusnya menjadi tolak ukur perkembangan sistem sosial manusia.
Mungkin sudah saatnya kita melihat bukan hanya pada apa yang suatu sistem sosial tidak bisa berikan kepada kita, melainkan apa yang bisa suatu sistem sosial itu berikan kepada kita.

Bisa kita ambil contoh yang paling signifikan yaitu perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet Rusia. Perang ideologi yang sesungguhnya membuat kedua negara berkompetisi secara sehat inilah sudah jelas sekali contoh yang paling nyata bahwa ada ketidakpuasan manusia akan kedua sistem sosial tersebut. Kalau memang sudah merasa puas dengan salah satu sistem sosial, saya rasa tidak perlu hal ini dipermasalahkan, apalagi sampai memicu perang dingin. Kalau sudah bahagia dengan sistem sosial komunisme, jalankan saja tanpa perlu melihat-lihat negara-negara yang menjalankan sistem sosial kapitalisme. Begitu juga dengan sistem sosial kapialisme, jalankan saja tanpa perlu melihat-lihat negara-negara yang menjalankan sistem sosial komunisme, bukan begitu bukan?

Tentu memang, tidak ada darah yang tercucur dalam perang dingin, tapi jelas yang memicu ini adalah ketidakpuasan manusia. Dan tidak jarang pula kita lihat dari sejarah manusia bahwa banyak sekali darah yang telah bercucuran hanya karena ketidakpuasan manusia.

Bisa karena ketidakpuasan kelompok manusia akan agamanya masing-masing (perang agama), ketidakpuasan kelompok manusia akan batas negaranya (kolonialisme), ketidakpuasan kelompok manusia akan dominasinya di dunia (perang dunia), dll.
Jelas memang, perang dingin dimenangkan oleh Amerika Serikat dengan ideologi kapitalisme-nya, namun sejarah belum berakhir selama manusia masih ada di dunia ini, selama manusia masih menjadi spesies yang paling dominan di atas muka bumi ini.

Mungkin sistem sosial manusia bisa maju. Kapitalisme dijalankan hampir di seluruh negara di muka bumi ini, dikurangi Rusia, Kuba dan Korea Utara tentunya. Walaupun begitu, yang menjadi permasalahannya adalah kecepatan evolusi otak manusia yang tidak sebanding dengan sistem sosial manusia itu sendiri. Pasti akan ada ketidakpuasan baru yang muncul seiring perkembangan zaman. Ini tentulah dikarenakan otak manusia dengan pemikiran sosialnya belum bisa berevolusi ke arah sistem sosial yang berlaku pada suatu zaman itu.

Sederhananya, sistem sosial kapitalisme tidak bisa dipungkiri memang yang menjadi sistem sosial yang paling dominan di atas muka bumi pada saat ini, tetapi  otak manusianya tetaplah sama dengan otak manusia yang ada di zaman sebelum revolusi industri. Otak manusianya tetaplah sama dengan otak manusia yang ada di zaman ketika hukum pancung atau hukum salib masih berlaku di Roma, misalnya. Otak manusia tidak bisalah berubah secara signifikan dalam tempo 2000 tahun itu. Lain dengan sistem sosial yang bisa sedemikian cepat berubah dalam waktu 2000 tahun, dari zaman Roma berkuasa, sampai zaman Amerika Serikat berkuasa; Amerika Serikat saja sekarang dalam tempo beberapa puluh tahun sehabis memenangkan perang dingin jatuh tersandung batu disalip Republik Rakyat Tiongkok dan Jepang yang dulunya saingan yang dipandang sebelah mata. Sekarang, dari pandangan yang hanya sebelah mata tersebut, tidak disadari bahwa ada tangan besar yang siap memukul kepala Amerika Serikat yang sombong itu, bukan?

Saya hanya ingin menyimpulkan, baik sistem sosial apapun itu, baik sistem sosial komunisme, baik sistem sosial kapitalisme, baik sistem sosial sosialisme, Marhaenisme, ataupun negara-negara yang konstitusinya berdasarkan peraturan suatu agama, ataupun kerajaan-kerajaan, tidak akan pernah bisa berjaya selamanya tanpa menyadari bahwa ketidakpernahpuasan manusianya itu selalu ada. Toleransi akan manusia yang tidak pernah puas dan pentingnya menyadari bahwa tidak akan ada suatu sistem sosial yang bisa memenuhi semua kepentingan manusianya adalah yang terpenting, yang seharusnya menjadi titik berat bila kita membicarakan tentang sistem sosial di muka bumi ini.

Karl Marx dengan buku-bukunya yang brilian yang selalu mengkritik kapitalisme, saya rasa kehilangan hal yang terpenting yang seharusnya menjadi titik berat pemikiran tentang sistem sosial manusia. Karakter alamiah manusialah yang menjadi masalah, bukan sistem sosial kapitalisme sendiri. Anggaplah buruh-buruh proletariat itu melakukan revolusi dari kapitalisme menjadi sosialisme. Selang puluhan tahun, tentu akan timbul keinginan untuk revolusi karena ketidaknyamanan sistem sosial sosialisme yang membuat adanya ketidakadilan antara manusia yang bekerja lebih dari manusia yang malas-malasan bekerja namun tetap mendapatkan hasil yang sama. Apa perlu revolusi lagi? Apa benar revolusi itu menjadikan sesuatu menjadi lebih baik?

Menurut saya, yang terpenting adalah penyadaran bahwa sistem sosial itu tidak akan pernah sempurna. Marilah mulai sekarang kita melihat apa yang sistem sosial itu bisa berikan kepada kita, bukan yang sistem sosial itu tidak bisa berikan kepada kita, dan toleransi terhadap ketidakpernahpuasan manusia itulah yang seharusnya menjadi acuan.